Minggu, 21 Agustus 2011

Pemuda di Era Globalisasi Dan Gombalisasi

Oleh : Gardha Galang M S




“Beri aku sepuluh pemuda ,maka akan aku goncangkan dunia”,ungkapan yang pernah dilontarkan oleh presiden pertama Indonesia yaitu Soekarno atau yang sering di panggil Bung Karno ini menunjukkan betapa pentingnya peran pemuda bagi keberlangsungan suatu negeri, bagaimana sebuah negeri itu akan maju atau terpuruk di situlah peran pemuda-pemudinya yang akan menentukan,
Berkaca dari negeri kita Negara Indonesia di masa lalu pada tanggal 27 - 28 Oktober 1928 bertempat di Waltervreden (sekarang Jakarta) para pemuda pada saat itu bersatu dan berikrar dengan membacakan teks tentang sumpah pemuda yang kiranya berbunyi :
SOEMPAH PEMOEDA
Pertama :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA
Kedua :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA
Ketiga :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA
Djakarta, 28 Oktober 1928
Awal dari kebangkitan para pemuda di Indonesia , pada saat itu kita bersatu untuk mengusir para penjajah, peran pemuda di Negara ini tidak hanya berakhir pada saat itu pada tahun 1966, pemuda yang tergabung dalam kesatuan-kesatuan aksi mahasiswa dan pemuda untuk menumbangkan pemerintahan pada saat itu yang di anggap lalai maka berahlihlah era Orde lama ke Orde baru dan di teruskan pula 32 tahun kemudian pemuda bersatu untuk menumbangkan rezim Orde Baru yang kiranya bayak praktek-praktek KKN yang hanya merugikan negara pada saat itu. Sungguh hebat para pemuda pada saat itu, bersatu dan bersuara untuk menyerukan aspirasi-aspirasinya untuk membangun negerinya menjadi lebih baik, karena itu pulalah negeri kita ini bisa masuk era reformasi dimana dari tuntutan reformasi yang di dengungkan sudah lah kiranya beberapa point dikatakan ‘terlaksana’, tetapi tetapi akankah perjuangan para pemuda hanya mencapi klimaksnya pada titik perubahan era reformasi, bukankah Negara kita ini masih membutuhkan persatuan mereka untuk membangun Negara ini bersama-sama. Kiranya para pemuda harus merenung untuk memikirkan hal itu.


Era Globalisasi dan Gombalisasi
Sebuah data dari surat kabar beberapa minggu lalu mengatakan lebih dari 83,2 persen koresponden Indonesia menyatakan, kini jiwa kepahlawanan dan semangat kepemudaan telah luntur dan disalahartikan,Pemudanya sibuk memikirkan diri sendiri, tanpa memperdulikan masyarakat disekitarnya yang tertindas,mahasiswanya sibuk kuliah, setelah kulaih pergi kekantin, setelah itu pulang ke kos. Sungguh ironi pemuda di era sekarang mereka semua hanya di cetak untuk menjadi seorang pekerja-pekerja tidak lagi di cetak menjadi seorang pemikir dan pemimpin, lalu pada siapa lagi kita harus bergantung kalau sudah begini?, tidak lah heran jikalau negeri ini di penuhi para koruptor,mafia peradilan, mafia kasus,buaya atau apalah namanya, pada era globalisasi, banyak budaya baru yang timbul dan merusak pemikiran-pemikiran para pemuda sebut saja budaya hedonisme dimana kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan hidup, runtuhnya kepekaan para pemuda terhadap masyarakat di sekitarnya sangat menghawatirkan lantaran kemajuan atau tidaknya suatu bangsa bisa dibilang ditentukan oleh para pemudanya.
Begitu banyak budaya atau faham yang dianut para pemuda ini bergeser, membuat tersendaknya kemajuan Negara ini, sebut saja era ini adalah era ‘gombalisasi’ kata ini sebenarnya sebatas klakar , dimana kata ini di ambil dari kata dasar gombal yang pada bahasa jawa artinya adalah sebuah kain bekas yang tak terpakai dimana kain bekas ini digunakan hanya sebatas untuk mengelap, ibarat gombal pemuda sekarang tak lagi ada kepedulian akan Negara dan masyarakat sekitarnya, seperti halnya ‘gombal’ pemuda sekarang menjadi kain bekas, yang hanya sebatas nama besar dari era kejayaan masa lalu.


























































Acapkali kita jumpai pemuda yang bergerak tanpa arah dan makna…. Pemuda yang hatinya linglung oleh fatamorgana dunia. Tapi tidak dengan kita…! Kita adalah pemuda Islam yang setiap kali jantung berdetak adalah (selalu) terpompakan oleh semangat aqidah…. yang menjadikan Allah sebagai tujuan, al-qur’an dan As-Sunnah sebagai pedoman, Rasulullah Saw sebagai tauladan dan syahid adalah cita-cita perjuangan. Itulah karakteristik pemuda Islam yang telah menjadi rahasia sekaligus inti suatu kebangkitan. Mari tegakkan syariah dan Khilafah…! Allahuakbar…!!“





Minggu, 05 Juni 2011

Mahasiswa Dan ‘Kaum Intelektual’



“…seorang intelektual adalah bagaikan seorang  direktur film. Ia adalah pengarah masyarakatnya yang ia amati dan yang berbagai tipe sosialnya harus ia ketahui dan kenal secara baik”(Ali Shariati). 

Definisi intelektual (al-mutsaqqaf) merupakan pengertian baru dalam bahasa Arab, persis seperti pengertian tsaqâfah (intelektualisme, kebudayaan), yang banyak dipakai dalam istilah social dan politik dalam rentang waktu beberapa abad yang lalu. Kata (al mutsaqqaf) dan (tsaqâfah) diambil dari kata kerja (tsaqafa) yang berarti, pintar, terampil, cakap, memahami, mengerti dan memperoleh atau menghasilkan.
a.      Mereka adalah 'Intelektual'
Mereka (Kaum Intelektual) adalah sesosok manusia yang punya prinsip dan keyakinan yang teguh untuk terus bergerak memajukan masyarakat. Mereka adalah bentuk dari perlawanan yang mencerahkan terhadap berbagai kezaliman penguasa. Tidak ada rasa takut bagi mereka untuk terus mendengungkan kebenaran-kebenaran. Penyuara tentang berbagai bentuk ketertindasan. Mereka berani berdiri tegak untuk berbeda dengan rezim yang tidak berpihak kepada rakyat.
Mereka yang kita sebut sebagai kaum intelektual juga tidak identik dengan orang yang berpendidikan tinggi seperti sarjana, mereka bisa jadi berangkat dari kalangan awam. Namun punya dedikasi, cara berfikir, bertindak yang muaranya demi kemaslahatan umat dan berpegang teguh pada kebenaran nurani. Inilah kaum intelektual sesungguhnya.
Beranjak dari itu semua, di Indonesia yang telah bergelut dengan berbagai pergantian zaman yang telah melahirkan para intelektual-intelektual pada masanya. Zaman Pergolakan, pada tahun 1908 saat lahirnya Budi Utomo, kelompok yang akhirnya banyak mendorong perubahan penting dalam haluan kehidupan berbangsa. Tokoh-tokoh yang muncul pada saat itu adalah dr Soetomo dengan kelompok studi di Stovia, Tan Malaka yang telah menuliskan Naar de Indonesiaan Republik, lalu juga Tiga Serangkai Kihajar Dewantara, Douwes Dekker dan Soewardi Soerjaningrat, HOS Tjokroaminoto, Kartini, KH. Hasim Asyari, KH. Achmad Dahlan. Orang-orang tersebutlah yang memberikan pondasi kuat bagi lahirnya sumpah pemuda 1028.
Pada zaman genting kemerdekaan tahun 1945, banyak generasi-generasi pemberani yang telah mengorbankan nyawa untuk lepas dari belenggu penjajahan pada saat itu, pada zaman ini pula telah melahirkan tokoh-tokoh negarawan penuh intregritas semisal Soekarno, Hatta, KH. Wachid Hasyim, Ki Bagus Hadikoesumo, Sutan Sjahrir, H Agus Salim, AA Maramis, D.N Aidit, Radjiman Wedyodiningrat, M Natsir, dan juga tokoh muda yang menculik Soekarno dan Hatta ke Rengasdeklok yaitu Cairul Saleh, Sukarni dan Wikana. Dan pada zaman-zaman berikutnya baik Orde Lama, Orde Baru, Orde Reformasi hingga Pasca Reformasi dengan para intelektual pada zaman tersebut.
Pasca reformasi yaitu zaman sekarang yang kita diami, telah memberikan begitu banyak kebebasan maupun kemerdekaan dalam berbagai hal, baik berserikat, berkumpul, berpendapat. Namun yang menjadi heran adalah zaman ini telah membuat pemuda-pemuda ataupun mahasiswa-mahasiswanya menjadi penikmat segala surga dari dunia dan tidak berkutik dihadapan berhala materialisme, kediktatoran uang, anomistis, dan perbudakan. Materialisme fundamentalis telah menjebak manusia kedalam belenggu alienasi(kesunyian, keterasingan manusia dari Tuhan, dari sesame manusia, dari lingkungannya) dan sinisme.
Kaum intelektual sebagai mana dijelaskan di awal bahwa intelektual tidak membatasi ia harus seorang yang berpendidikan tinggi sarjana, tetapi kaum intelektual bisa lahir dari petani, PKL, atapun Kiai, yang terpenting dari itu semua adalah dedikasi untuk memperjuangkan kemaslahatan umat namun dari semua hal itu, perlu diingat bahwa yang wajib untuk menjadi kaum intelektual adalah Mahasiswa.
b.      Mahasiswa adalah bagian dari 'Mereka’
Mahasiswa adalah seorang pemuda yang mengalami proses belajar  dari suatu pendidikan tinggkat lanjut. Tetapi pertanggung jawaban seorang mahasiswa tidak hanya sebatas untuk itu(belajar, memperoleh nilai baik, dapat juara atau piala) yaitu tanggung jawab terhadap dirinya , jauh dari itu semua, seorang mahasiswa mempunyai tanggung jawab kepada sesamanya yaitu pada masyarakat sekitar dan bahkan pada bangsa hingga dedikasinya kepada  kemaslahatan umat.
Seharusnya dengan adanya kemerdekaan yang sekarang ini mahasiswa lebih mudah bergerak, namun bukannya seperti cita-cita ideal yang di harapkan( dedikasinya kepada kemaslahatan umat) mahasiswa justru menjadi budak materialisme, bagaimana mereka sibuk berganti-ganti prangkat teknologi dengan alih-alih mengikuti perkembangan sedangkan dipinggiran trotoar jalan banya anak-anak yang belum mengecam pendidikan. Bagaimana mereka sibuk mempercantik diri setiap hari dalam perbudakan kapitalisme tanpa melihat sekitarnya bagaimana orang-orang kelaparan mencari makan setiap harinya.
 Sebagaimana perannya menjadi seorang intelektual, tiga hal wajib dimiliki seorang mahasiswa untuk membekali dirinya sebagai intelektual yaitu Idealisme, Keberpihakan dan Keberanian untuk melawan status quo.
Idealisme, seorang mahasiwa harus memiliki idealisme yang menjadikannya kuat akan tekadnya untuk berjuang terhadap kebenaran yang telah diyakininya.
Keberpihakan. Setalah ia kuat dan pantang untuk menggadaikan kebenaran yang telah diyakininya ia wajib untuk berpihak atau mempunyai keberpihakan kepada masyarakat yang lemah dan terpinggirkan disekitarnya.
Keberanian melawan status quo,  berani melawan status quo yang tidak bertanggung jawab kepada kesejahteraan rakyat.
seorang intelektual bagaikan seorang  direktur film, Mahasiswa haruslah bisa mencetuskan ide-ide, gagasan gagasan konstruktif kedepan yang dapat membangun sendi-sendi keadilan sebagaimana seorang direktur film yang mampu mengarahkan film untuk dapat mencapai ending yang bahagia, Ia adalah pengarah masyarakatnya yang ia amati dan yang berbagai tipe sosialnya harus ia ketahui dan kenal secara baik , Mahasiswa mempunyai tugas membangkitkan dan membangun masyarakat. Bukan sekedar menjadi penonton dan mengamati jalan kehidupan masyarakat